Yang Katanya Indah dalam Segala Hal

(pic from Pinterest)

Setelah sekian lama, aku bertemu denganmu lagi. Sebenarnya, situasinya baik-baik saja. Tapi entah kenapa rasanya semua orang di tempat itu sedang menertawakan diriku saat melihat dirimu tadi? Pikir mereka, mendapat nilai jelek di ujian untuk dua mata pelajaran penting saja sudah mengecewakan. Dan setelahnya, bertemu denganmu pula. Sudah jatuh, ditimpa tangga.

Sebenarnya, masalah kita tidak separah itu, menurutmu. Dan sejujurnya, aku juga berpikir demikian. Tapi aku juga tidak bisa menolak bahwa apa yang kau katakan saat itu benar-benar membuatku jatuh. Katakan, apa saja yang telah aku lakukan hingga menyakitimu? Apa yang membuatmu merasa sangat sakit sampai harus menjatuhkanku seperti itu? Bukankah lebih baik kita membicarakan masalah ini baik-baik? Bukankah itu yang dilakukan orang-orang baik sepertimu? 

Kontras sekali dengan caramu membawa diri. Orang bilang kau adalah insan yang sangat baik hati, sangat indah, dan sangat mengagumkan. Kasihan sekali mereka, karena dilihat dari perbuatanmu padaku hari itu, aku merasa mereka tidak sepenuhnya benar tentangmu. Hanya tampang luarmu saja yang kau kemas sedemikian rupa, tapi sayang sekali, kau lupa melakukan hal yang sama pada bagian dalam dirimu. Jujur, aku sedikit menyesal pernah mempercayai pendapat orang lain mengenai dirimu yang katanya indah dalam segala hal. 

Aku tidak dendam padamu, khawatir jika suatu hari nanti aku berada dalam suatu situasi yang membuatku harus terjebak denganmu. Ada beberapa bagian dari dirimu yang memang baik, tapi maafkan aku, kini aku lebih banyak melihat burukmu daripada baikmu. Aku benci selalu berusaha meyakinkan diri bahwa kau pasti memiliki alasan sendiri atas perbuatanmu padaku, mungkin saja aku pernah mengecewakanmu. Aku tidak begitu suka bagian diriku yang itu. 

Tidak perlu memaafkanku kalau berat, karena aku juga butuh waktu cukup lama untuk bisa memaafkanmu. Ya, aku sudah memaafkanmu, tapi tidak akan pernah kulupakan segala perbuatanmu itu. Walau aku tak menaruh dendam padamu, aku harap kau tidak lagi muncul di depanku seperti tadi. Terimakasih karena telah menjadi salah satu pelajaran terpenting dalam hidupku, semoga kebahagiaan terus menyertaimu sampai yang paling akhir. Ketahuilah, aku tidak akan pernah menutup bab ini sampai aku selesai.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Suasana Hati

Dia, Mereka, dan 100 mukanya