Suasana Hati

Kadang sepi seperti bagian lain Surabaya di malam hari, kadang juga riuh seperti Jakarta dan Bandung di segala waktu. Sebuah grup berjulukan cinta yang tak berbalas isinya orang-orang sakit, para pembawa hati yang aku lihat sudah hancur berkeping-keping. Sayang sekali, aku bagian dari grup ini. Kalau dipikir sebenarnya lucu, Indonesia bagian patah hati kata orang lain. 

Kalau mengikuti suasana hati riuh layaknya Jakarta dan Bandung, perut dipenuhi kupu-kupu, dan mata mulai dipenuhi bintang-bintang yang berbinar. Kau memang orang yang begitu indah, begitu baik, sampai-sampai rasanya sangat sakit untuk menyukai, tidak, mencintaimu. Rambut yang tertata rapi, postur tegap nan tinggi, kedua mata yang sendu, itulah engkau. Langit, tidakkah kau berniat meminjamkan bintangmu yang ini untukku? 

Kalau mengikuti suasana hati yang sepi seperti bagian lain Surabaya di malam hari, aku adalah jarum di tumpukan jerami, yang kemudian berkarat. Sejujurnya tidak terlalu menyakitiku, menyukaimu seperti bab pertengahan di novel bergenre romantis, indah nan membahagiakan. Tapi harus ingat, kebahagiaan yang selamanya itu di surga. Kita di dunia hanya berjuang, termasuk dalam hal cinta. Jadi apa yang bisa aku lakukan, jikalau yang berbaris untuk meraihmu ada jutaan? 

Sebenarnya aku tidak punya vhs tape untuk mengabadikan dirimu, tak punya vinyl untuk menyimpanmu. Yang aku pegang saat ini hanyalah hati dan juga pikiran, memang paling lemah, tapi bisa melupakan jikalau suatu saat nanti ada sesuatu yang membuatku sakit. Aku tidak suka menangis, bukan karena aku benci jadi lemah, tapi karena rasanya aneh. Namun, aku berterimakasih pada Tuhan yang selalu menurunkan hujan untuk menemani saat-saat menyedihkanku. Terimakasih dan sehat-sehat, orang baik.

Comments

Popular posts from this blog

Yang Katanya Indah dalam Segala Hal

Dia, Mereka, dan 100 mukanya