Dia, Mereka, dan 100 mukanya


Biar aku beritahu sesuatu, sebenarnya naif itu tidak apa-apa. Dengan begitu, yang kau lihat pertama kali dalam seseorang adalah baiknya. Segala hal baiknya yang sampai membuatmu terlena untuk melihatnya seperti itu. Lama, kau menjadi orang bodoh. Saking bodohnya sampai tak menyadari bahwa dia-dia sedang memakai topeng, yang entah berapa lapis sudah ia kenakan. 

Tidak apa, aku pernah di posisi itu, sebagai korban tentunya. Naif, maklum, baru pertama kali jadi remaja saat itu. Remaja yang sangat menginginkan banyak teman, tanpa mengetahui jikalau mencari teman juga harus dipilah baik buruknya. Bodoh, maklum, baru mendapat pengalaman pertama jadi remaja. Awalnya kupikir itu naturalnya manusia, jelas ada baik buruknya. Namun, semakin dibiarkan, semakin naik pula kadar keburukan mereka. Aku memanggil mereka "Muka 100", khusus untuk tiap orang tersebut. 

Memang kita semua memiliki 100 muka demi menjaga citra, tapi ada baiknya kita pintar dalam menggunakan tiap muka. Agar tidak berakhir seperti dia dan dia. Katakan kolot, kuno, yang jelas bisa menjaga diri, untuk kamu, kita, dan yang lain. Sekali lagi, agar tidak berakhir seperti dia, dan dia. Tidak perlu kusebutkan siapa, karena mereka memiliki kecenderungan mudah tersinggung. 

Comments

Popular posts from this blog

Yang Katanya Indah dalam Segala Hal

Suasana Hati